Dailykepri.com | Kesehatan – Infeksi Saluran Kemih (ISK) menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami oleh perempuan, di mana diperkirakan satu dari dua perempuan berisiko terinfeksi penyakit ini setidaknya sekali dalam seumur hidup. Kondisi medis ini umumnya ditandai dengan gejala disuria atau rasa tidak nyaman saat buang air kecil, seperti sensasi terbakar, nyeri, serta dorongan buang air kecil yang terus-menerus meskipun urine yang keluar hanya sedikit. Gangguan yang sering masyarakat awam sebut sebagai anyang-anyangan ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyerang organ sistem perkemihan.
Tingginya risiko serangan ISK pada populasi perempuan dibandingkan laki-laki yang hanya memiliki rasio potensi satu dari sepuluh sangat erat kaitannya dengan kondisi anatomi tubuh. Perempuan memiliki saluran uretra yang lebih pendek sehingga memudahkan jalur perpindahan bakteri, terutama Escherichia coli (E. coli) dari area anus menuju ke kandung kemih. Selain akibat kesalahan cara membasuh area kewanitaan, kontaminasi dari lingkungan luar juga menjadi faktor pemicu utama masuknya mikroorganisme tersebut.
“Selain itu, bakteri yang terdapat di air atau toilet juga bisa menyebarkan ISK,” kata Spesialis Urologi, Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K).
Berdasarkan data medis global dari WebMD dan laporan dalam jurnal Open Forum Infectious Diseases, ISK menempati urutan ketiga sebagai penyakit yang paling banyak membutuhkan resep obat antibiotik bagi pasien rawat jalan. Di Amerika Serikat saja, ratusan ribu pasien terpaksa menjalani rawat inap setiap tahunnya akibat komplikasi infeksi ini. Jika tidak segera ditangani, bakteri penyebab ISK dapat menyebar hingga ke organ ginjal, ditandai dengan perubahan warna air seni menjadi keruh, gelap, berdarah, serta diikuti timbulnya demam tinggi, menggigil, nyeri punggung bawah, dan rasa lelah yang ekstrem.
Selain kelompok perempuan dewasa muda, risiko ISK juga tergolong tinggi pada bayi, ibu hamil, lansia, penderita diabetes, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta pasien yang terpasang kateter medis. Penggunaan kateter di fasilitas kesehatan maupun rumah tangga menjadi salah satu penyumbang kasus terbesar, di mana mencakup sekitar 25 persen dari total kejadian ISK pada kelompok lanjut usia.
Guna mengatasi infeksi yang berulang atau telah meluas, penanganan medis yang tepat sangat diperlukan melalui pemberian obat-obatan terukur di bawah pengawasan dokter. Terapi yang diberikan dapat berupa penghancuran batu kandung kemih, perbaikan penyempitan saluran kemih, hingga pemberian resep antibiotik spesifik tergantung pada tingkat keparahan infeksi yang dialami pasien.
“Jika bakteri naik hingga ke dalam darah, kita biasa beri antibiotik suntik supaya lebih kuat reaksinya,” ujar Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K).
Di samping penanganan farmakologis, studi ilmiah dari Worcester Polytechnic Institute menunjukkan bahwa konsumsi jus cranberry dapat membantu mencegah perkembangan bakteri E. coli dalam saluran kemih. Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa terapi alami ini tidak selalu cocok untuk semua orang karena dapat memicu asam urat, batu ginjal, iritasi lambung, serta berinteraksi negatif dengan obat pengencer darah. Oleh karena itu, langkah pencegahan dasar tetap menjadi benteng terdepan, meliputi pemenuhan kebutuhan cairan harian, tidak menahan buang air kecil, membersihkan organ intim dari arah depan ke belakang, serta menjaga kebersihan alat reproduksi dan fasilitas sanitasi secara berkala.











Komentar