Media Belanda Ulas Istilah ‘Londo Ireng’ Prabowo

Sorotan koran Belanda De Volkskrant atas istilah 'londo ireng' Prabowo Subianto memicu diskusi publik usai diunggah akademisi UI

Headline, Nasional9475 Dilihat

Dailykepri.com | Jakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait istilah “londo ireng” yang dialamatkan kepada sebagian jurnalis, pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) meluas menjadi diskursus publik setelah disorot oleh surat kabar terkemuka asal Belanda, De Volkskrant. Isu ini semakin mencuri perhatian masyarakat setelah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya, mengunggah tangkapan layar serta terjemahan berita tersebut melalui akun media sosial pribadinya pada akhir Juli 2026.

Dalam unggahannya di platform X pada Jumat (31/7/2026), Berly membagikan hasil terjemahan artikel De Volkskrant bertajuk “IS INDONESIA ON THE WAY TO BANCRUPTCY?” atau “Apakah Indonesia Sedang Menuju Kebangkrutan?”. Laporan media internasional tersebut mengulas dinamika perekonomian Indonesia di tengah kritik publik, sekaligus menyoroti respons Presiden Prabowo yang secara tegas membantah narasi bahwa perekonomian nasional sedang mengarah pada krisis atau kolaps.

Gambar dengan Link DailyKepri Image

Sorotan media asing tersebut bersumber dari pidato Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Kamis (23/7/2026). Dalam forum tersebut, Kepala Negara memaparkan komitmen pemerintah dalam merehabilitasi sarana pendidikan dengan target perbaikan lebih dari 100.000 sekolah hingga tahun 2027. Namun, Presiden menyayangkan sikap sebagian media massa yang dinilai lebih fokus menyoroti kekurangan ketimbang mengapresiasi puluhan ribu sekolah yang telah berhasil direnovasi.

“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama. Aduh, dia kira kita tidak mengerti. Saya tidak sebut lah media mana itu, pada saatnya akan saya sebut. Kalian sudah tahu lah kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam pidato resminya.

Presiden Prabowo kemudian mengaitkan fenomena kritikan tersebut dengan istilah sejarah “londo ireng”, sebutan dalam bahasa Jawa yang secara historis merujuk pada serdadu atau warga lokal yang memihak kepada pemerintah kolonial Belanda pada masa perang kemerdekaan. Menurut Presiden, pemikiran atau kecenderungan mengabdi pada kepentingan asing tersebut masih dijumpai saat ini dalam wujud profesi modern.

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan,” tegas Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Kepala Negara menilai terdapat kampanye terselubung dari pihak-pihak tertentu yang secara konsisten membendung optimisme publik dengan menyebarkan prediksi bahwa perekonomian Indonesia akan runtuh dari bulan ke bulan. Presiden Prabowo menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak terbukti di lapangan, mengingat indikator pertumbuhan ekonomi nasional masih mencatatkan angka yang solid di kisaran 5,6 persen. Pemerintah memastikan fokus pembangunan nasional dan program prioritas tetap berjalan sesuai rencana demi kepentingan masyarakat luas.

Komentar