Antisipasi Dampak El Nino 2026, BP Batam Siapkan Empat Langkah Mitigasi Pasokan Air Bersih

BP Batam memaksimalkan pengelolaan dan ketahanan air baku untuk menghadapi puncak musim kemarau di Kepulauan Riau

Batam, BP Batam, Headline8705 Dilihat

Dailykepri.com | Batam – Badan Pengusahaan (BP) Batam bergerak cepat memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman dampak fenomena El Nino serta puncak musim kemarau 2026. Langkah strategis ini diambil guna memastikan ketersediaan dan ketahanan pasokan air bersih bagi seluruh lapisan masyarakat di Kota Batam tetap fulfilled tanpa gangguan operasional.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki puncak musim kemarau pada rentang Juli hingga September 2026, dengan intensitas kekeringan tertinggi diperkirakan berlangsung pada Agustus. Pemantauan Dasarian II Juli 2026 mencatat sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau setara 509 Zona Musim telah memasuki periode kemarau. Kondisi ini secara langsung meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Kota Batam.

Gambar dengan Link DailyKepri Image

Menanggapi ancaman iklim tersebut, BP Batam bersama Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) dan PT Air Batam Hilir (ABH) menaruh perhatian penuh pada pengelolaan waduk sebagai penopang utama sumber air baku daerah. Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dini dalam merespons dinamika perubahan cuaca global ini agar pasokan kebutuhan dasar tidak terganggu.

“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny pada Selasa (11/8/2026).

Guna meminimalkan dampak penyusutan pasokan, BP Batam telah merumuskan empat skenario mitigasi utama untuk memelihara ketahanan air baku. Langkah pertama berfokus pada pemantauan kondisi air baku secara real-time guna menyajikan data akurat bagi penetapan pola operasional harian, termasuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air, kapasitas produksi, serta tingkat konsumsi publik. Langkah kedua mengoptimalkan sistem interkoneksi jaringan antar-waduk guna menyokong distribusi air baku ke wilayah-wilayah yang mengalami penurunan debit signifikan.

Selain intervensi teknis operasional, langkah ketiga mengedepankan pelestarian lingkungan melalui percepatan reboisasi serta perlindungan Daerah Tangkapan Air (DTA), yang diwujudkan lewat penghijauan dan pencegahan aktivitas perusak fungsi resapan. Sementara langkah keempat diarahkan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk pemanfaatan teknologi desalinasi air laut Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai sumber alternatif masa depan.

“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” tutur Denny.

Dalam merespons kondisi kemarau ini, BP Batam turut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif melalui gerakan penghematan air di tingkat rumah tangga. Masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak sesuai kebutuhan, mematikan keran saat tidak digunakan, memeriksa instalasi perpipaan secara berkala guna mencegah kebocoran tersembunyi, menekan penggunaan air untuk keperluan sekunder, serta menjaga kelestarian kawasan resapan dari potensi aktivitas pemicu kebakaran.

Denny memungkas bahwa keberhasilan langkah mitigasi ini sangat ditentukan oleh kolaborasi sinergis antara pemerintah, pengelola, dan partisipasi aktif masyarakat. “Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.

Komentar