BP Batam Bangun Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan

Ikon Baru Penataan Kota Batam di Jalur Bandara

Batam, BP Batam, Headline6593 Dilihat

Dailykepri.com | Batam – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memulai penataan wajah Kota Batam melalui peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V, Jumat (10/7). Prosesi tersebut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran Anggota/Deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam, serta pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.

Bundaran yang berada di jalur menuju Bandara Internasional Hang Nadim ini menjadi bagian dari program penataan ruang untuk menghadirkan wajah kota yang lebih indah, bersih, dan tertata. Ke depan, bundaran tersebut diharapkan menjadi ikon baru yang menyambut wisatawan yang datang ke Batam.

Gambar dengan Link DailyKepri Image

Amsakar menegaskan, penataan wajah kota merupakan agenda berkelanjutan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kawasan perkotaan. Ia mengutip arahan Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan keteraturan kota agar mencerminkan kemajuan daerah. “Presiden berulang kali mengingatkan agar kabupaten dan kota dirawat dengan baik. Jangan sampai kumuh, semrawut, dipenuhi reklame yang tidak tertata ataupun kabel yang mengganggu estetika kota. Karena itu, kemarin ada gerakan Indonesia Asri dan di Batam kita laksanakan melalui gerakan Batam Asri,” ujarnya.

Pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan disebut sebagai langkah awal penataan taman dan bundaran di berbagai titik Kota Batam. Menurut Amsakar, desain bundaran harus mencerminkan identitas daerah. “Hari ini kita sedang membangun sejarah baru bagi Kota Batam,” katanya.

Proyek ini dilaksanakan melalui kolaborasi BP Batam dengan dunia usaha lewat program CSR PT Uma Graha Berkah, sehingga tidak menggunakan APBD maupun anggaran BP Batam. Amsakar menyampaikan apresiasi kepada pelaku usaha yang mendukung gagasan penataan kota, serta kepada LAM Kota Batam yang memberi masukan mulai dari penamaan hingga desain arsitektur. Nama bundaran yang semula direncanakan sebagai Bundaran Hang Nadim kemudian disepakati menjadi Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V, sebagai penghormatan kepada tokoh sejarah penting di Kepulauan Riau.

Dari sisi desain, tugu bundaran mengadopsi bentuk tanjak, penutup kepala tradisional Melayu yang melambangkan kehormatan dan jati diri masyarakat Melayu. Unsur tepak sirih juga dihadirkan sebagai simbol penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan budaya Melayu. “Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya,” jelas Amsakar.

Melalui penataan ini, BP Batam berharap Batam semakin memperkuat posisinya sebagai bandar madani yang inovatif, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus menjadi destinasi unggulan bagi investasi, perdagangan, dan pariwisata di Indonesia.

Komentar