Dailykepri.com | Batam – Ada kebaikan yang tak membutuhkan panggung. Ia tak selalu datang dengan gemuruh tepuk tangan, tak pula menuntut namanya disebut-sebut. Kadang, kebaikan hanya bermula dari sebuah cerita yang menyentuh hati, lalu berpindah dari satu telinga ke telinga yang lain, dari satu hati ke hati yang lain, hingga akhirnya menemukan jalan untuk menjadi pertolongan.
Minggu kedua Oktober lalu, saya tertegun mendengar cerita Ketua Seksi Pendidikan PWI Batam, Kamal Asni. Ia bertemu dengan seorang gadis yang masih duduk di kelas XI SMA Negeri 25 Batam. Gadis itu sedang mencari pekerjaan paruh waktu.
Bukan untuk menambah uang jajan. Bukan pula untuk membeli gawai baru seperti kebanyakan anak seusianya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang ia pikul, sesuatu yang barangkali terlalu berat bagi bahu seorang anak yang seharusnya masih sibuk menata mimpi dan merajut cita-cita.
Ia ingin tetap bisa mengantar ibunya menjalani cuci darah dua kali seminggu di Rumah Sakit Harapan Bunda. Ia merawat ibunya seorang diri, sembari berusaha mempertahankan langkahnya di bangku sekolah. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada biaya yang harus dicari, dan ada seorang ibu yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja.
Ayahnya telah berusia senja. Dengan penghasilan sebagai pengemudi ojek konvensional, lelaki itu tentu berusaha membantu sebisanya. Namun, usia dan keadaan memiliki batas yang tak selalu bisa dilawan dengan kemauan.
Mendengar cerita itu, saya membayangkan betapa sering seorang anak harus belajar menjadi dewasa sebelum waktunya. Ketika anak-anak lain mungkin sibuk memikirkan hari esok, ia justru harus memikirkan bagaimana agar esok ibunya tetap bisa berobat.
Di hadapan kenyataan seperti itu, rasanya kita tak cukup hanya mengucapkan rasa iba. Sebab, iba yang berhenti sebagai perasaan tak akan banyak mengubah keadaan. Ada saatnya kepedulian harus beranjak menjadi tindakan.
Jumat (23/10/2026), setelah berdiskusi, kami dari PWI Batam menemui Kepala SMA Negeri 25 Batam, Mujid. Kami ingin memastikan agar persoalan yang dihadapi siswi tersebut tidak menjadi penghalang bagi pendidikannya. Alhamdulillah, segala kewajiban sekolah yang menjadi tanggungannya dihapuskan.
Dari pertemuan itu, kami juga mengetahui bahwa wali kelasnya pernah datang langsung ke rumah siswi tersebut. Sang guru memahami keadaan keluarga itu dan memberikan izin agar si anak bisa pulang lebih dahulu setiap kali harus mengantar ibunya berobat.
Di sana, saya melihat bahwa kebaikan ternyata telah lebih dahulu tumbuh. Ia hadir dalam kepekaan seorang guru yang tak hanya melihat murid sebagai nama di daftar kehadiran, tetapi juga sebagai manusia dengan kehidupan yang tak seluruhnya bisa dibaca dari ruang kelas.
Sepulang dari sekolah, kami menghubungi Lurah Tanjung Buntung, Edi Supardi. Saat itu ia sedang mengikuti rapat. Namun, setelah mendengar cerita yang kami sampaikan, ia menyempatkan diri menemui kami.
Edi kemudian memeriksa apakah keluarga siswi tersebut telah menerima bantuan pemerintah yang menjadi hak mereka. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa seluruh bantuan yang tersedia bagi keluarga itu telah diterima.
Bagi saya, langkah itu penting. Sebab, membantu seseorang bukan semata-mata soal memberikan sesuatu dari tangan kita sendiri. Ada kalanya pertolongan justru dimulai dengan memastikan bahwa hak seseorang telah terpenuhi, bahwa tak ada bantuan yang terlewat, dan bahwa keluarga yang sedang kesulitan tidak berjalan sendirian di antara berbagai urusan yang mungkin tak mereka pahami.
Namun, Edi tidak berhenti pada pemeriksaan itu. Ia menghubungi Ketua RT 001/003, M. Mashilman, untuk mengecek langsung kondisi keluarga siswi tersebut.
Setelah itu, komunikasi kami terputus. Saya tidak tahu apa saja yang dibicarakan atau langkah apa yang kemudian disusun. Saya hanya tahu, sebuah cerita yang semula disampaikan Kamal kepada saya telah menemukan lebih banyak telinga yang bersedia mendengar dan lebih banyak tangan yang bersedia membantu.
Senin (26/10/2026), Kamal kembali menghubungi saya. Ia meminta agar saya ikut mendampingi Lurah Tanjung Buntung dan Ketua RT 001/003 menyerahkan formulir permohonan bantuan kepada BAZNAS Kota Batam.
Saya pun hadir. Dari pertemuan itulah tercipta foto yang menyertai tulisan ini.
Bagi sebagian orang, mungkin foto itu hanya merekam beberapa orang yang sedang mengurus permohonan bantuan. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar gambar. Foto itu merekam perjumpaan sejumlah orang yang dipertemukan oleh satu hal sederhana: keinginan untuk meringankan beban sesama.
Kamal memulai semuanya dengan menyampaikan sebuah cerita. Pihak sekolah merespons dengan kepedulian. Lurah bergerak memastikan keadaan dan menghubungkan langkah berikutnya. Ketua RT dilibatkan untuk melihat kenyataan di lapangan. PWI Batam ikut mendampingi agar ikhtiar itu terus berjalan.
Tak seorang pun dari kami dapat menyelesaikan seluruh persoalan keluarga tersebut sendirian. Kami hanya mengerjakan bagian kecil yang bisa kami lakukan, sembari berharap ada pintu yang terbuka bagi keluarga itu untuk memperoleh pertolongan yang dibutuhkan.
Di sinilah saya belajar sesuatu dari Lurah Tanjung Buntung dan orang-orang yang terlibat dalam ikhtiar ini: kebaikan tidak selalu harus dimulai dengan kemampuan besar. Kadang-kadang, ia cukup dimulai dengan kesediaan untuk mendengar, kepekaan untuk memahami, dan kemauan untuk menghubungkan satu orang dengan orang lain yang mungkin bisa membantu.
Saya menulis catatan ini bukan untuk memberikan pujian berlebihan kepada Edi Supardi, Kamal Asni, Mujid, M. Mashilman, ataupun siapa pun yang terlibat. Saya percaya, banyak orang yang berada pada posisi serupa akan melakukan hal yang sama ketika berhadapan dengan kenyataan yang menggugah nurani.
Saya juga tidak bermaksud menjadikan kesulitan sebuah keluarga sebagai bahan untuk menonjolkan kebaikan kami sendiri. Penderitaan seseorang bukan panggung bagi siapa pun untuk mendapatkan tepuk tangan.
Saya menulis ini semata-mata untuk mengapresiasi sebuah niat baik yang dijembatani oleh orang-orang baik; orang-orang yang masih memiliki kepekaan sosial, yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukannya untuk melihat keadaan orang lain, dan yang memahami bahwa hidup bukan hanya tentang urusan kita sendiri.
Sebab, niat baik pun terkadang membutuhkan jembatan. Ada orang yang pertama kali mendengar, ada yang bersedia menyampaikan, ada yang memeriksa, ada yang menghubungkan, dan ada yang mendampingi. Mereka mungkin tidak melakukan hal yang sama, tetapi langkah-langkah kecil itu menuju arah yang sama: agar seseorang yang sedang kesulitan tidak kehilangan harapan.
Bagi saya, inilah salah satu makna penting kehadiran PWI Batam di tengah masyarakat. Kami bukan hanya ingin hadir ketika ada peristiwa yang perlu diberitakan, tetapi juga ingin merawat kepekaan terhadap kehidupan di sekitar kami. Sebab, pers bukan semata-mata tentang kata-kata yang ditulis, melainkan juga tentang nurani yang membuat kata-kata itu memiliki arti.
Dan sebagai manusia, kita semua membutuhkan sesama untuk saling mengingatkan pada kebaikan. Bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan karena kita tahu bahwa hati manusia bisa lengah, perhatian bisa teralihkan, dan kepedulian bisa perlahan menjauh ketika kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Barangkali, itulah sebabnya Allah mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu pada waktu yang tidak selalu kita rencanakan. Ada yang membawa cerita, ada yang membuka jalan, ada yang menunjukkan arah. Kita mungkin tidak pernah tahu sejauh mana sebuah langkah kecil akan membawa perubahan bagi kehidupan orang lain. Namun, kita bisa memilih untuk tidak membiarkan langkah itu berhenti.
Saya dan teman-teman di PWI Batam merasa beruntung. Sebuah niat baik yang kami bawa ternyata disambut dengan niat baik pula. Kami datang membawa cerita tentang seorang anak yang sedang berjuang untuk ibunya, lalu bertemu dengan orang-orang yang tidak membiarkan cerita itu berlalu begitu saja.
Kami tidak tahu bagaimana akhir dari seluruh ikhtiar ini. Permohonan bantuan masih harus melalui prosesnya, dan kebutuhan keluarga tersebut tentu tidak selesai hanya dengan sebuah pertemuan atau selembar formulir. Tetapi setidaknya, ada ikhtiar yang sedang berjalan. Ada pintu yang sedang diketuk. Ada harapan yang sedang diupayakan bersama.
Dan kadang-kadang, sebelum pertolongan benar-benar tiba, mengetahui bahwa kita tidak sendirian saja sudah menjadi kekuatan untuk bertahan.
Terima kasih kepada setiap orang yang telah bersedia menjadi jembatan. Semoga Allah membalas setiap niat baik dengan kebaikan yang berlipat ganda, melapangkan urusan mereka yang melapangkan urusan orang lain, dan menjaga hati kita agar tidak lelah untuk peduli.
Sebab, kebaikan tak selalu lahir dari tangan yang paling kuat atau dari mereka yang memiliki paling banyak. Terkadang, kebaikan tumbuh dari hati yang tergerak, lalu menemukan jalannya melalui orang-orang yang bersedia saling menguatkan.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang baik, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan kebaikan dengan mereka yang membutuhkannya. Dan semoga, dalam perjalanan hidup yang singkat ini, kita tak pernah lelah saling mengingatkan pada kebaikan.
Khafi Anshary
Ketua PWI Batam











Komentar