Catatan Seorang Wartawan: Balapan Ibu Hamil yang Mengupas Masalah Besar

Batam, Headline8408 Dilihat

Oleh: M. A. Khafi Anshary

Minggu pagi (8/11/2026), jari saya sedang berselancar di dunia maya. Entah mencari apa, tiba-tiba berhenti di sebuah laman milik Dinas Kesehatan Kota Batam, dinkes.go.id, yang memuat informasi berbagai kegiatan dinas tersebut.

Gambar dengan Link DailyKepri Image

Mata saya tertahan pada sebuah judul kegiatan: Balapan Bumil.

Saya sempat tertawa kecil. Dalam bayangan sesaat, betapa lucunya membayangkan ibu-ibu dengan perut membesar mengikuti perlombaan lari. Siapa yang paling cepat? Siapa yang paling kuat? Atau jangan-jangan ada hadiah bagi ibu hamil yang paling gesit mencapai garis finis?

Tentu saja itu hanya imajinasi liar seorang wartawan yang terlalu cepat menafsirkan judul.

Setelah membaca lebih jauh, ternyata BALAPAN BUMIL merupakan akronim dari Barcode Lapor Temukan Ibu Hamil. Sebuah inovasi pelayanan kesehatan yang diluncurkan di Kelurahan Tanjung Uma, Batam, pada 30 Oktober 2026. Program ini dirancang untuk memudahkan masyarakat melaporkan keberadaan ibu hamil melalui pemindaian barcode, sehingga petugas kesehatan dapat melakukan verifikasi, penemuan, pemeriksaan, hingga pemantauan secara berkelanjutan.

Rasa penasaran saya pun muncul. Siapa gerangan yang menemukan nama program ini? Apa motivasi di balik pemilihan istilah yang terdengar seperti perlombaan tersebut?

Saya kemudian iseng menghubungi dr. Agnes Sintalia Saing, seorang sahabat yang sudah cukup lama mengabdikan dirinya di Puskesmas Belakang Padang, pulau tempat saya menetap.

Kebetulan sekali, ternyata dialah sosok di balik gagasan inovasi tersebut.

Di sela obrolan itu, saya juga meminta izin kepada dr. Agnes untuk menggunakan fotonya sebagai ilustrasi tulisan ini. Sebuah foto yang kelak bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan pengingat tentang seorang tenaga kesehatan yang mencoba menjawab persoalan besar melalui sebuah gagasan sederhana.

Obrolan pun mengalir. Seperti biasa, kalau berbincang dengannya, kita lebih banyak menjadi pendengar daripada pembicara. Maklum, dr. Agnes memang cukup ceriwis. Hehehe….

Tetapi, di balik keceriwisannya, ada sesuatu yang menarik untuk dicatat. Percakapan yang awalnya hanya ingin mengorek cerita tentang sebuah nama justru membawa saya masuk ke persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana nasib pelayanan kesehatan ibu hamil di Kota Batam, dan mengapa upaya menemukan seorang ibu hamil ternyata bisa menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

Inovasi BALAPAN BUMIL itu lahir dari proses berpikir dan pengamatan terhadap persoalan yang ditemukan dr. Agnes ketika mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Administrator. Dalam pelatihan tersebut, ia tidak sekadar diminta menyusun gagasan perubahan, tetapi juga mengidentifikasi masalah nyata di lingkungan kerja, menganalisis akar persoalannya, kemudian menawarkan solusi yang dapat diterapkan.

Ia mempresentasikan rencana aksi perubahan itu dengan membawa sejumlah data yang patut menjadi bahan perenungan.

Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pelayanan kesehatan ibu hamil Kota Batam, misalnya, tercatat 97,9 persen pada 2024. Angka itu turun menjadi 90,21 persen pada 2025. Sementara pada Januari hingga Juni 2026, capaiannya baru 38,13 persen, dengan target tahunan 100 persen.

Angka-angka itu bukan sekadar deretan statistik dalam lembar presentasi. Di baliknya ada ibu-ibu yang mungkin belum terdata, belum mendapatkan pemeriksaan sesuai standar, atau bahkan belum tersentuh pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya.

Persoalannya semakin terasa ketika melihat catatan kematian ibu. Sepanjang 2025, terdapat 32 kematian ibu di Kota Batam, dengan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 151 per 100.000 kelahiran hidup.

Tentu, tidak semua kematian tersebut dapat dikaitkan langsung dengan persoalan pendataan. Namun, angka itu cukup menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan ibu tidak boleh berhenti pada menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Ada tanggung jawab untuk menemukan, mendekati, dan memastikan setiap ibu hamil memperoleh pelayanan yang dibutuhkan.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa sebuah program harus diberi nama BALAPAN BUMIL.

Sebab, yang sesungguhnya sedang dikejar bukan ibu-ibu hamil dalam sebuah perlombaan, melainkan waktu, ketertinggalan pendataan, dan risiko yang bisa mengancam keselamatan ibu serta anak yang dikandungnya.

Dalam obrolan kami, dr. Agnes kemudian menyampaikan satu persoalan sosial yang cukup mengusik pikiran saya. Ada ibu hamil yang memilih menyembunyikan kehamilannya karena terjadi di luar ikatan pernikahan.

Di tengah masyarakat yang masih kerap memberikan penilaian sosial secara terburu-buru, kehamilan seperti itu bisa menjadi sesuatu yang dianggap memalukan. Ada ketakutan, tekanan keluarga, bahkan kekhawatiran menghadapi lingkungan sekitar.

Akibatnya, keberadaan ibu hamil tidak selalu mudah diketahui petugas kesehatan.

Saya terdiam sejenak ketika mendengar penjelasannya.

“Tidak perlu disembunyikan. Kita bukan ingin mencari tahu siapa bapaknya. Kita peduli dengan ibu dan anak di dalam kandungannya,” ujar dr. Agnes.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pesan kemanusiaan yang tidak sederhana.

Dalam urusan kesehatan, seorang ibu hamil tidak semestinya lebih dahulu dihadapkan pada penghakiman sosial. Siapa pun dia, bagaimana pun latar belakang kehamilannya, ia tetap manusia yang memiliki hak atas pelayanan kesehatan. Anak yang dikandungnya juga tidak boleh menanggung stigma atas keadaan yang bahkan bukan pilihannya.

Barangkali inilah salah satu sisi penting dari BALAPAN BUMIL. Program ini tidak hanya menawarkan teknologi pelaporan berbasis barcode, tetapi juga membangun kepedulian masyarakat untuk menemukan ibu hamil tanpa harus menghakimi latar belakangnya.

Melalui pemindaian barcode, masyarakat atau kader dapat melaporkan keberadaan ibu hamil. Puskesmas kemudian melakukan verifikasi dan pelacakan bersama bidan, kader, serta unsur lingkungan. Ibu hamil yang ditemukan akan mendapatkan edukasi, Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pemeriksaan kehamilan sesuai standar, termasuk pemeriksaan 10T, USG, dan skrining kesehatan jiwa, hingga pemantauan berkelanjutan sampai persalinan.

Pendataan sejak dini juga memungkinkan petugas mengantisipasi risiko kehamilan, termasuk mempersiapkan kebutuhan transportasi, calon pendonor darah, serta koordinasi dengan keluarga dan lingkungan apabila terjadi keadaan darurat.

Program ini memulai penerapan percontohannya di wilayah kerja Puskesmas Tiban Baru dan Puskesmas Lubuk Baja, dengan tiga kelurahan sebagai lokus, yakni Tiban Baru, Tiban Lama, dan Tanjung Uma.

Pemilihan wilayah tersebut tentu bukan tanpa pertimbangan. Kawasan perkotaan dengan mobilitas penduduk tinggi memiliki tantangan tersendiri dalam pendataan. Begitu pula kawasan pesisir dan permukiman padat, yang membutuhkan keterlibatan lebih aktif dari bidan, kader, RT, RW, hingga lurah.

Batam memiliki 12 kecamatan, 64 kelurahan, 21 puskesmas, dan 21 rumah sakit. Dengan cakupan wilayah dan jumlah penduduk yang terus bergerak, menemukan seluruh ibu hamil bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan menunggu laporan rutin.

Karena itu, BALAPAN BUMIL membutuhkan kerja bersama. Teknologi hanya menjadi pintu masuk. Keberhasilannya tetap bergantung pada manusia yang mau bergerak, petugas yang bersedia menindaklanjuti, serta masyarakat yang memahami bahwa kesehatan ibu hamil bukan semata-mata urusan keluarga yang bersangkutan.

Saya kemudian berpikir, barangkali inilah makna sesungguhnya dari sebuah inovasi dalam birokrasi. Bukan sekadar membuat aplikasi, menciptakan istilah baru, atau memamerkan barcode yang bisa dipindai melalui telepon genggam. Inovasi seharusnya lahir karena ada persoalan yang belum terselesaikan, kemudian menghadirkan cara baru untuk memperbaikinya.

Apalagi jika persoalan itu menyangkut keselamatan manusia.

Tentu, BALAPAN BUMIL masih membutuhkan pembuktian melalui pelaksanaan dan evaluasi. Sistem pelaporan harus berjalan, data harus akurat, petugas harus responsif, dan setiap laporan masyarakat harus benar-benar ditindaklanjuti. Jangan sampai barcode hanya ramai dipindai ketika peluncuran, tetapi kehilangan fungsi ketika masyarakat mulai membutuhkan kehadiran petugas kesehatan.

Sebab, ukuran keberhasilan program ini bukan berapa banyak barcode yang dibagikan, berapa banyak sosialisasi dilaksanakan, atau seberapa menarik namanya dalam sebuah presentasi. Ukurannya adalah berapa banyak ibu hamil yang berhasil ditemukan, berapa banyak yang memperoleh pemeriksaan sesuai standar, dan seberapa jauh risiko kematian ibu serta bayi dapat ditekan.

Menjelang akhir obrolan, saya kembali teringat pada judul yang semula membuat saya tertawa.

BALAPAN BUMIL.

Ternyata, di balik nama yang terdengar jenaka itu, ada persoalan serius yang sedang berusaha diurai. Ada ibu-ibu yang mungkin takut memperlihatkan kehamilannya. Ada keluarga yang belum memahami pentingnya pemeriksaan. Ada petugas kesehatan yang harus bekerja lebih aktif menemukan sasaran. Dan ada angka kematian yang seharusnya tidak boleh kita terima sebagai sekadar statistik tahunan.

Mungkin memang sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Jangan sampai seorang ibu harus lebih dahulu datang ke puskesmas untuk diketahui keberadaannya. Jangan pula seorang anak harus kehilangan kesempatan hidup sehat hanya karena kehamilan ibunya luput dari pendataan.

Dalam perlombaan BALAPAN BUMIL, tidak ada ibu yang harus berlari. Tidak ada garis finis yang perlu mereka kejar.

Justru kitalah yang harus berlari.

Berlari mengejar ketertinggalan pelayanan, mengejar waktu sebelum risiko datang, dan mengejar satu tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar angka capaian kinerja: memastikan setiap ibu memiliki kesempatan untuk melahirkan dengan selamat, dan setiap anak memperoleh hak untuk memulai kehidupannya dengan sehat.

Sebab, dalam urusan menyelamatkan kehidupan, keterlambatan sekecil apa pun bisa berarti sangat besar.

Komentar