Surau Lereng Tarekat Sammaniyah/ Naqsabandiyah Taman Lestari Gelar Wirid dan Kajian Menjelang Ramadhan

Batam, Headline, Komunitas7675 Dilihat

Dailykepri.com | Batu Aji – Surau Lereng Tarekat Sammaniyah/ Naqsabandiyah menggelar silaturahmi dan doa bersama menyambut bulan suci Ramadhan pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, Surau yang beralamat di Bukit Merdeka No. 81 RT 07 RW 16, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam.

Acara yang dihadiri jamaah dan tamu undangan itu dimulai dengan rangkaian kegiatan ibadah berjamaah dan kajian keagamaan, bertujuan mempererat hubungan antarjamaah sekaligus mempersiapkan diri secara spiritual menjelang Ramadhan 1447 H yang menurut perhitungan Surau Lereng akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Foto: Surau Lereng Tarekat Sammaniyah/ Naqsabandiyah (*/DK)

Kegiatan malam itu dibuka dengan shalat Isya berjamaah, dilanjutkan wirid yang dipimpin oleh Buya Hamidi sebagai mursyid dan pimpinan Surau Lereng, tahlil, doa menyambut Ramadhan, tawajuh, serta penyampaian kajian oleh para pembicara tamu yaitu Buya Daniel dari Surau Dagang Imam Bonjol (Saguba) dan Buya Busra dari Surau Tuo (Puskopkar).

Buya Hamidi sebagai ketua Panitia menyatakan rangkaian ibadah dan kajian berlangsung khidmat dan tertib, dengan kehadiran jamaah dari berbagai latar belakang profesi dan wilayah di Kota Batam, termasuk dari Piayu, Bengkong, Batu Besar, Nagoya, serta kawasan Batu Aji dan sekitarnya.

Keterangan: Buya Hamidi (*/DK)

Dalam sambutannya, Buya Hamidi menegaskan bahwa pertemuan itu dimaksudkan untuk memperkuat silaturahmi antarjamaah dan menyamakan niat menyambut Ramadhan.

“Menjalin hubungan silaturrahmi antar jamaah surau dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 yang akan jatuh pada Rabu (18/2/2026) untuk Surau Lereng,” ujar Buya Hamidi.

Ia juga menyampaikan harapan agar Surau Lereng terus berkembang dan mendapat keridhaan Allah, sambil memaparkan tradisi dan program pembinaan spiritual yang dijalankan di surau tersebut.

Salah satu tradisi yang menjadi ciri khas Surau Lereng adalah pelaksanaan suluk atau berkhalwat bagi jamaah yang mendapatkan izin, yakni menjalani tarekat Naqsabandiah wal Qhalidiah selama 40 hari. Menurut Buya Hamidi, praktik suluk ini dimulai sejak 2013 dan dibuka setiap tahun bagi jamaah yang akan menjalani.

Foto: Buya Busra (*/DK)

“Mudah‑mudahan surau berkembang dan mendapatkan keridhoan Allah, tidak lupa Buya Hamidi mengatakan, dari tahun 2013 telah melaksanakan suluk atau berkhalwat bagi jamaah yang mendapatkan izin dari Allah selama 40 hari dalam menjalani tariqat Naqsabandiah wal Qhalidiah. Suluk ini dibuka setiap tahun bagi jamaah yang akan menjalani,” kata Hamidi.

Buya Hamidi menceritakan sejarah singkat perkembangan Surau Lereng. Pembangunan surau dimulai pada 2011 dan rampung pada 2012, sementara pelaksanaan berkhalwat pertama kali dilakukan pada 2013 dengan tiga orang peserta yang menjalani 40 hari. Pada 2014 jumlah peserta meningkat menjadi lima orang, 2015 sebanyak tujuh orang, dan jumlah peserta terus berlanjut hingga 2025. Menurut Hamidi, pada 2026 Surau Lereng juga merencanakan kembali penyelenggaraan suluk. Rangkaian data tersebut disampaikan sebagai bagian dari catatan perkembangan aktivitas spiritual yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Selain aspek suluk, Surau Lereng rutin menggelar wirid dan kajian tarekat. Buya Hamidi menjelaskan bahwa setiap malam Jumat surau mengadakan wirid kajian tarekat Naqsabandiah, serta secara konsisten melaksanakan amalan ibadah seperti shalat Isya berjamaah, shalat tasbih berjamaah, witir, wirid, tahlil, doa, dan tawajuh hingga selesai.

“Suasana surau yang asri dan dekat dengan alam sejuk serta menenangkan. Surau Lereng secara rutin mengadakan wirid kajian tareqat Naqsabandiah pada malam Jumat setiap minggu. Amalan ibadah shalat Isya berjamaah, salat tasbih berjamaah, witir, wirid tahlil, doa, bertawajuh sampai selesai,” ujar Hamidi, menggambarkan suasana dan rutinitas yang menjadi daya tarik jamaah.

Foto: Buya Danil (*/DK)

Para pembicara tamu, Buya Daniel dan Buya Busra, dalam penyampaian kajiannya menekankan pentingnya tata laku spiritual, konsistensi wirid, dan peran surau sebagai ruang pembinaan tarekat yang membimbing jamaah dalam praktik keagamaan sehari‑hari. Materi kajian yang disampaikan mendapat perhatian jamaah yang hadir, terlihat dari interaksi dan tawajuh yang berlangsung setelah penyampaian materi. Kehadiran tamu undangan dan pembicara dari beberapa surau lain juga menunjukkan jaringan antar surau yang aktif dalam membina komunitas tarekat di wilayah setempat.

Panitia pelaksana menyatakan bahwa acara silaturahmi malam itu menjadi momen penting untuk menyamakan niat, memperkuat ukhuwah, dan memetakan program‑program keagamaan menjelang Ramadhan. Penyelenggaraan yang tertib dan khidmat, menurut panitia, mencerminkan komitmen Surau Lereng dalam menjaga norma ibadah dan etika keagamaan. Jamaah yang datang berasal dari beragam profesi, sehingga kegiatan surau tidak hanya menjadi ruang ibadah tetapi juga titik temu sosial bagi komunitas lokal.

Secara lingkungan, Surau Lereng digambarkan memiliki suasana asri dan dekat dengan alam, kondisi yang menurut jamaah mendukung penghayatan ibadah dan praktik tarekat. Keberlanjutan program mingguan dan kegiatan tahunan seperti suluk menjadi indikator bahwa surau ini berupaya mempertahankan tradisi pembinaan spiritual sekaligus membuka akses bagi jamaah yang ingin mendalami tarekat Naqsabandiah wal Qhalidiah di bawah bimbingan mursyid.

Menutup rangkaian acara, panitia dan Mursyid Surau memimpin doa bersama dan tawajuh, memohon kelancaran dan keberkahan bagi seluruh jamaah serta kelangsungan aktivitas Surau Lereng. Mereka juga menyampaikan informasi bahwa program suluk akan kembali dibuka pada 2026 bagi jamaah yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin, sebagai bagian dari upaya pembinaan spiritual yang berkelanjutan. (*/Daniel)

Komentar