Zikir di Panggung Sajadah

Batam, Headline, Komunitas1297 Dilihat

Dailykepri.com | Batu Aji — Malam itu, setelah shalat Isya berjamaah, Surau Lereng Tarekat Sammaniyah/Naqsabandiyah, Taman Lestari berubah menjadi panggung akustik spiritual, lantunan la ilaha illallah mengalun seperti jingle yang tak pernah bosan diputar ulang.

Zikir pembuka rangkaian menyambut Ramadhan 1447 H itu berlangsung khidmat, efektif menenangkan hati, dan cukup ampuh membuat beberapa warga yang kebetulan lewat bertanya apakah mereka baru saja melewati konser religi gratis.

Keterangan: Buya Hamidi (*/DK)

Mursyid Buya Hamidi atau yang biasa dipanggil Da Midi memimpin dengan wibawa yang tak kalah dari pembawa acara televisi utama, suara tegas, jeda dramatis, dan intonasi yang membuat setiap kalimat terasa seperti berita utama.

Jamaah duduk rapi, beberapa dengan mata terpejam, beberapa lagi sibuk menyesuaikan posisi sajadah agar tidak terlihat seperti penonton yang salah tempat.

Foto: Abi (*/DK)

Di antara lantunan, ada tawa kecil yang muncul dari Abi, bukan karena lelucon, melainkan karena kenyataan sederhana, manusia memang seringkali menemukan humor di tengah keseriusan.

Acara ini, menurut ketua panitia, Dayat yang tampak berpengalaman dalam mengatur acara dan suasana hati, dimaksudkan untuk menyatukan niat.

Foto: Dayat (Tengah/*/DK)

Niat itu kemudian diuji oleh hal-hal kecil, lampu yang berkedip, suara motor yang lewat, dan satu dua ponsel yang bergetar seperti ingin ikut berdzikir.

Seorang panitia sempat berbisik bahwa kalau saja frekuensi hati bisa disamakan dengan frekuensi Wi‑Fi, acara pasti lebih cepat selesai. Bisik itu disambut senyum, lalu zikir kembali mengisi ruang.

Foto: Jamaah Surau Lereng, Taman Lestari, Batu Aji (*/DK)

Di lereng bukit Taman Lestari, Batu Aji, angin malam membawa aroma laut yang bercampur debu jalan, memberi nuansa lokal yang tak bisa dipindahkan ke gedung megah manapun.

Suasana temaram lampu surau menambah efek teatrikal, zikir terasa seperti adegan penutup film yang baik dan tanpa kredit akhir, tetapi dengan kepuasan batin yang setara.

Foto: Weki (*/DK)

Seorang jamaah muda, sebut saja Weki berkomentar bahwa suara zikir malam itu layaknya terapi stres yang tidak perlu resep dokter.

Tidak semua yang hadir datang dengan ekspektasi religius murni. Ada pemuda yang mengaku ikut karena penasaran, berharap menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada playlist musiknya.

Foto: Abdul Mutalib (*/DK)

Setelah beberapa menit, ia mengangguk pelan dan mengakui bahwa zikir itu lebih menenangkan daripada aplikasi favoritnya.

Pengakuan itu mendapat senyum dari Abdul Mutalib dan sekelompok majelis yang rutin hadir, bagi mereka, zikir bukan sekadar pengucapan kalimat, melainkan ritual komunitas yang merajut kembali hubungan antar jemaah termasuk saling mengingatkan siapa yang lupa membawa sajadah.

Foto: Gabungan Jemaah (*/DK)

Mursyid dan jamaah surau seperti Pista Indra malam itu menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, memastikan lampu temaram, kipas tidak berisik, dan pintu tertutup rapat agar suara zikir tidak terganggu oleh dunia luar.

Tugas-tugas kecil semacam ini, kata beberapa jamaah, sama pentingnya dengan lantunan itu sendiri. Tanpa mereka, khidmat bisa buyar, tanpa khidmat, zikir bisa berubah menjadi sekadar kebiasaan yang diulang tanpa makna.

 

Ketika lantunan terakhir menghilang ke dalam gelap, jamaah perlahan tenggelam dalam kesunyian mengingat Rabb nya. Ada rasa puas yang sederhana, niat disatukan, hati sedikit lebih tenang, dan ponsel-ponsel yang tadi bergetar kini dimatikan dengan sukarela.

Seorang jemaah bernama Anton menutup malam dengan candaan yang nyaris menjadi slogan: jika Ramadhan dimulai dengan zikir seperti ini, ia siap menunda notifikasi selama sebulan.

Candaan itu disambut tepuk tangan kecil, bukan karena dramatis, melainkan karena semua tahu, sedikit kompromi dengan ponsel adalah harga kecil untuk ketenangan.

Zikir pembuka menyambut Ramadhan di Surau Lereng Tarekat Sammaniyah/Naqsabandiyah malam itu berhasil melakukan tugasnya, menyatukan suara, menenangkan hati, dan memberi sedikit hiburan tak terduga bagi mereka yang datang dengan ekspektasi minimal. Di lereng perbukitan Taman Lestari, Batu Aji, tradisi bertemu realitas sehari-hari, dan dalam pertemuan itu, Ramadhan tampak mulai dengan nada yang tepat. (*/Daniel)

Komentar