PWI Batam Apresiasi Penulis Muda SMKN 4 Batam

Batam, Headline5473 Dilihat

Dailykepri.com | Batam – Pagi itu, halaman SMKN 4 Batam tidak hanya dipenuhi barisan siswa berseragam rapi dan derap langkah upacara yang teratur. Ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kebanggaan yang menggantung di udara, hangat, pelan-pelan menyentuh hati siapa pun yang menyaksikan.

Di antara ratusan pelajar, berdiri seorang siswi dengan wajah teduh dan mata yang menyimpan banyak cerita. Namanya Nada Salsabila Kamil. Bukan karena suaranya paling nyaring, bukan pula karena barisannya paling depan. Ia berdiri istimewa karena dunia-dunia yang ia ciptakan lewat kata-kata.

Senin pagi, 26 Januari 2026, menjadi salah satu halaman penting dalam hidupnya.
Di bawah langit Batam yang cerah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam menyerahkan piagam penghargaan kepada Nada, siswi SMKN 4 Batam yang telah menulis 19 novel, dengan empat di antaranya telah resmi diterbitkan. Sebuah capaian yang bahkan bagi banyak orang dewasa pun masih terasa seperti mimpi yang jauh.

Upacara yang biasanya berlangsung khidmat dan rutin, mendadak berubah menjadi panggung penghormatan bagi kerja sunyi yang jarang terlihat: membaca dalam diam, menulis dalam sepi, berjuang dalam kesendirian.

Foto : Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Ansar

Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Ansari, melangkah ke depan bersama tim pendidikan PWI Batam; Dedi Sulaiman, Arment Aditya, dan Muhammad Kamil didampingi Kepala SMKN 4 Batam, Abdul Mukti. Piagam itu bukan sekadar selembar kertas berbingkai. Ia adalah pengakuan bahwa imajinasi seorang pelajar memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat.

“Ini adalah bentuk apresiasi kami terhadap perjuangan dan bakat yang telah Nada tunjukkan,” ujar Khafi Ansari, suaranya mengalir tenang namun penuh makna.

“Prestasi ini bukan hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menunjukkan bahwa Nada mampu menonjolkan keterampilannya di bidang literasi.”

Di tengah gempuran gawai dan arus cepat media sosial, Nada memilih jalan yang tak selalu riuh tepuk tangan. Ia menekuni kata demi kata, merajut tokoh demi tokoh, membangun alur demi alur. Hingga lahirlah belasan novel dari tangannya yang masih begitu muda.

Produktivitasnya bukan sekadar angka. Sembilan belas novel adalah sembilan belas dunia. Sembilan belas perjalanan emosi. Sembilan belas bukti bahwa ketekunan lebih nyaring daripada keraguan.

Menurut Khafi, penghargaan ini adalah bentuk pengakuan atas kesetiaan Nada pada proses panjang membaca dan menulis. Dua hal yang sering dianggap sederhana, padahal darinyalah lahir pemikiran besar.

“Tujuan pemberian piagam ini sebagai reward, ucapan terima kasih, serta motivasi untuk terus meningkatkan prestasi dan berinovasi,” tambahnya.

Di barisan siswa yang menyaksikan, mungkin ada yang baru pertama kali menyadari: teman sebaya mereka telah menaklukkan sesuatu yang tampak mustahil. Bahwa dari ruang kelas, dari bangku sekolah kejuruan, dari sudut-sudut sunyi perpustakaan, bisa lahir seorang penulis muda dengan karya nyata.

PWI Batam pun menitipkan harapan besar di pundak Nada. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai cahaya.

“Kami akan terus mendukung kegiatan positif yang mendorong kreativitas di kalangan pemuda,” kata Khafi.

Penghargaan ini menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah penegasan bahwa literasi masih hidup, tumbuh, dan menemukan wajahnya pada generasi muda. Bahwa menjelang Hari Pers Nasional, PWI Batam tidak hanya merayakan pers sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai penjaga peradaban kata.

Dan di pagi itu, di halaman SMKN 4 Batam, semua orang belajar satu hal penting:
bahwa mimpi tidak selalu bersuara keras. Kadang ia tumbuh pelan, lewat tangan seorang siswi yang tak lelah menulis, hingga dunia akhirnya menoleh dan berkata, kami melihatmu.

Komentar