Dailykepri.com | Batam – Batam akan menjadi tuan rumah pertandingan ekshibisi walking football antara Persejasi Kepri dan Johor Walking Football Association (JWFA) pada 6–8 Februari 2026, sebuah langkah awal untuk memperkenalkan dan memperluas ekosistem olahraga berjalan ini di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Tiga laga telah disepakati, terdiri dari dua kategori putra usia di atas 40 tahun dan satu kategori putri usia di atas 35 tahun, dengan penyelenggaraan yang melibatkan event organizer profesional sebagai uji kesiapan organisasi lokal mengelola pertandingan internasional.
Rencana ekshibisi ini muncul di tengah upaya serius memperkenalkan walking football kepada masyarakat Kepulauan Riau, meski cabang olahraga tersebut masih relatif asing di Indonesia. Berbeda dari sepak bola konvensional, walking football melarang pemain berlari; setiap pergerakan harus dilakukan dengan berjalan cepat dan wasit akan memberikan pelanggaran jika pemain kedapatan berlari. Aturan sederhana namun ketat itu menjadi ciri khas yang membedakan olahraga ini dan menjadi daya tarik tersendiri bagi kelompok usia menengah ke atas.
Kedatangan rombongan JWFA ke Batam pada Selasa, 20 Januari 2026, yang dipimpin Presiden Ricalin Iganam, menandai babak awal penjajakan kerja sama lintas negara. Kunjungan tersebut melibatkan perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam serta Dinas Pemuda dan Olahraga Batam, dengan tujuan melihat langsung perkembangan walking football dan membahas potensi kolaborasi yang dapat memperkuat jaringan olahraga di kawasan perbatasan. Pilihan Batam sebagai lokasi ekshibisi didasarkan pada ketersediaan fasilitas olahraga yang memadai dan posisi strategis kota sebagai pintu gerbang internasional.
Pemerintah kota melihat peluang ekonomi dan pariwisata dari olahraga ini. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menilai walking football memiliki potensi sport tourism yang tinggi karena mampu menarik kunjungan atlet dan komunitas olahraga mancanegara. Menurut Ardiwinata, Batam memiliki amenitas yang cukup untuk menampung ribuan peserta jika event berskala lebih besar digelar, sehingga pertandingan persahabatan ini diharapkan menjadi pemicu bagi penyelenggaraan kompetisi yang lebih luas di masa mendatang. “Sebagai pemerintah, kami tentu sangat senang dengan rencana pertandingan persahabatan dua negara ini. Kami berharap event ini berjalan lancar dan ke depan bisa berkembang menjadi event yang lebih besar dengan melibatkan negara-negara tetangga,” ujarnya.
Dari sisi pengalaman, delegasi Johor membawa catatan perkembangan yang menjanjikan. Naib Presiden JWFA, Khairi, menjelaskan bahwa walking football berkembang pesat di Johor dan populer di kalangan usia di atas 40 tahun, bahkan banyak peserta yang berusia di atas 50 tahun. Partisipasi perempuan juga terus meningkat, sehingga model pembinaan dan pengelolaan komunitas di Johor dinilai dapat menjadi referensi bagi pengembangan di Batam. Khairi menekankan bahwa pola latihan, turnamen lokal, dan pendekatan inklusif terhadap kelompok usia menengah ke atas menjadi kunci keberhasilan di Johor.
Di tingkat lokal, antusiasme komunitas mulai terlihat nyata. Ketua Persejasi Kepulauan Riau, Yudi Candra, menyatakan optimisme terhadap perkembangan walking football di Batam, menyebut sejumlah lapangan mini soccer di kota itu kini rutin dimanfaatkan untuk aktivitas dan pertandingan walking football, baik dalam bentuk latihan bersama maupun laga persahabatan antarkomunitas. Menurut Yudi, penggunaan fasilitas yang sudah ada menunjukkan bahwa olahraga ini mulai dikenal luas dan memiliki basis peserta yang terus bertumbuh. Persejasi Kepri memastikan akan menurunkan tim terbaik untuk ekshibisi, menandakan komitmen organisasi lokal untuk menampilkan pertandingan berkualitas.
Penyelenggaraan ekshibisi juga dimaknai sebagai kesempatan untuk menguji kesiapan teknis dan logistik. Panitia menyiapkan fasilitas pertandingan, koordinasi dengan dinas terkait, serta melibatkan event organizer profesional untuk memastikan standar penyelenggaraan internasional terpenuhi. Selain aspek teknis, penyelenggara juga mempertimbangkan aspek promosi dan pengembangan jangka panjang, termasuk kemungkinan menjadikan Batam sebagai tuan rumah rutin untuk event walking football regional yang dapat menarik peserta dari negara tetangga.
Meski masih baru, walking football menawarkan nilai tambah sosial dan kesehatan bagi kelompok usia menengah ke atas. Aturan yang membatasi lari membuat olahraga ini lebih aman bagi peserta yang ingin tetap aktif tanpa risiko cedera tinggi, sementara format pertandingan yang kompetitif namun ramah mendorong partisipasi lintas gender dan usia. Jika ekshibisi di Batam berjalan sukses, potensi untuk mengembangkan program pembinaan, liga lokal, dan kalender turnamen regional terbuka lebar, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai destinasi sport tourism di kawasan.
Dengan jadwal yang sudah ditetapkan dan dukungan dari berbagai pihak, perhatian kini tertuju pada pelaksanaan teknis dan respons publik. Keberhasilan acara ini akan menjadi indikator awal apakah walking football dapat berakar kuat di Kepulauan Riau dan berkembang menjadi kegiatan olahraga serta pariwisata yang berkelanjutan. Saya bisa menyiapkan siaran pers tiga paragraf siap publikasi untuk mempromosikan ekshibisi ini.











Komentar