Dailykepri com | Batam – Dari punggung bukit kecil di Belakang Padang, sebuah sekolah menatap jauh melintasi laut. Di ufuk sana, gedung-gedung tinggi Singapura berdiri tegak, memantulkan cahaya matahari seperti cermin raksasa yang memamerkan kemajuan. Kilau itu kadang terasa seperti bisikan sunyi yang berkata: dunia berlari cepat, dan anak-anak pulau tertinggal jauh di belakang.
Namun pagi itu, dari sebuah ruangan tua di SMP Negeri 2 Batam, cahaya lain justru menyala. Lebih hangat, lebih hidup, dan jauh lebih menjanjikan.
Ruangan itu bernama Sanggar Tua Jenaka. Dindingnya sederhana, kipas angin berputar pelan, dan jendela-jendelanya menghadap laut yang tak pernah benar-benar diam. Sejak 1984, ruang ini menjadi saksi langkah-langkah kecil anak pulau mengejar masa depan. Hari itu, tawa 25 siswa kelas VII dan VIII memenuhi udara, mengusir sepi yang kerap singgah di sekolah hinterland.
Di sanalah api literasi dinyalakan.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam datang bukan membawa gemerlap, melainkan keyakinan: bahwa pena di tangan pelajar bisa lebih kuat daripada keluhan pada keadaan. Anak-anak diajak mengenal dasar-dasar jurnalistik, belajar menyusun kalimat, merangkai fakta, dan yang terpenting, percaya bahwa cerita mereka layak didengar.
Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Anshary, berdiri di depan kelas dengan suara tenang namun penuh makna. Ia tidak sedang memberi ceramah, melainkan menanam benih.
“Langkah kami ke sekolah-sekolah bukan sekadar hadir lalu pergi,” ujarnya.“Kami ingin menyalakan api literasi. Kalianlah yang akan menjaganya tetap menyala.”
Lalu ia melempar pertanyaan yang menggantung lama di udara:
“Karena masa depan tidak akan bertanya kalian berasal dari pulau mana. Masa depan bertanya apa yang sudah kalian siapkan hari ini?” Kalimat itu jatuh pelan, tapi menetap dalam hati.
Kepala SMPN 2 Batam, Mardiana Wati, S.Pd, menyambut kegiatan itu dengan mata berbinar. Ia tahu betul, anak-anak di pulau kecil butuh lebih dari sekadar pelajaran di papan tulis.
“Siswa kami butuh motivasi dari luar untuk memacu semangat mereka,” tuturnya lirih, seperti seorang ibu yang berharap angin baik datang lebih sering ke halaman rumahnya.
Sabtu menjelang siang itu, PWI Batam juga menghadirkan seorang tamu yang membuat ruangan sederhana itu terasa luas oleh mimpi. Nada Salsabila Kamil, siswi kelas XI SMKN 4 Batam, hadir sebagai bukti bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkarya. Gadis penenun kata itu telah melahirkan 19 novel; empat di antaranya bahkan telah dilirik penerbit dan dicetak.
Dengan suara pelan tapi mantap, Nada berbagi rahasianya: membaca lebih dulu, menulis kemudian, dan tidak pernah berhenti mencoba. Anak-anak mendengarnya dengan mata berbinar, seakan untuk pertama kalinya, mereka melihat masa depan dalam wujud yang sebaya dengan mereka sendiri.
Di usia SMPN 2 Batam yang tak lagi muda, sekolah ini justru kerap diselimuti sunyi. Setiap tahun jumlah siswa menyusut, tergerus perpindahan penduduk dan bertambahnya sekolah lain. Di Pulau Penawar Rindu saja kini berdiri dua SMP dan satu MTs. Ruang kelasnya jadi terasa lengang.
Namun hari itu berbeda. Di Sanggar Tua Jenaka, suara pensil yang beradu dengan kertas terdengar seperti detak jantung harapan. Anak-anak yang selama ini merasa jauh dari pusat kota, dari gedung tinggi, dari gemerlap kemajuan, mulai menyadari sesuatu yang sederhana tapi mengubah segalanya: jarak tidak pernah menentukan seberapa tinggi seseorang bisa bermimpi.
Ke depan, Kamal, Kamil, Harment Aditya, Izazat Kurnia, dan Dedi Sulaiman, wartawan seksi pendidikan PWI Batam tak ingin api itu padam. Selain pelatihan jurnalistik, mereka tengah menyiapkan lomba menulis untuk pelajar SD dan SMP di wilayah hinterland. Sebab mereka percaya, anak-anak pulau kaya cerita. Tentang laut, tentang orang tua, tentang perjalanan panjang menuju sekolah. Hanya saja selama ini tak banyak yang memberi mereka panggung.
Dan mungkin, suatu hari nanti, dari ruang sederhana yang menghadap laut itu, akan lahir tulisan-tulisan yang menyeberangi batas pulau, melintasi selat, bahkan melampaui bayang-bayang gedung tinggi di negeri jiran.
Karena cahaya masa depan, sesungguhnya, tidak selalu datang dari kaca pencakar langit. Kadang, ia lahir dari tangan kecil yang sedang belajar menulis mimpi. (*)











Komentar